Paling Berani, Tulus dan Jujur

Saya senang dengan salib di kerahnya. Itu bagi saya merupakan tanda kemenangan dan semangat tanpa menyerah.
Tadi malam foto ini saya post di story messenger dengan tulisan pendek: “Paling berani, tulus dan jujur”. Hanya hitungan detik, sudah banyak pesan masuk. Ada yang bangga dengan kehadirannya sebagai romo, filsuf, dan pemikir yang berwawasan luas dan sejuk. Yang lain mengirim pesan ejekan.
Di beberapa media sosial, fotonya diupload dengan narasi kebencian. Sebagian orang Katolik menghakiminya karena dianggap mempermalukan gereja.
Saya ingat apa yang pernah disampaikan oleh ketua KWI: “Kalau tidak dicaci berarti kurang tajam.” Iya suara kenabian melekat juga kepadanya saat ditahbiskan. Sangat bangga dengan sosok ini. Bangga dengan keberaniannya untuk bersaksi. Ia membuka mata bahwa ternyata ada hal yang salah di negara ini. Hujatan kepadanya menunjukkan bahwa menjadi saksi di negara ini memang tidak mudah. Banyak orang yang diam bicara karena takut hujatan dan tidak siap dibully. Tahu satu kebenaran tapi diam saja.
Di usia yang sudah 88, beliau justru tampil berani tanpa beban. Ia akan tetap bersuara ketika ada ketidakadilan, kecurangan atau intimidasi. Ia akan tetap berbicara tentang kedamaian, keadilan, dan kasih persaudaraan.
Saya bayangkan bahwa para kuasa hukum yang menyudutkan kehadirannya kalaupun seluruh harta mereka diberikan kepadanya, maka ia pasti akan menolaknya. Itu pasti tidak akan bisa membungkam mulutnya yang tulus dan jujur. 100% saya yakin bahwa dia bersaksi tanpa bayaran.
Seorang teman pastor menulis bahwa pada tahun 2007 beliau pernah ditawari Bakrie Award dengan hadiah uang Rp. 250 juta, tapi ia menolak karena solider dengan warga Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Rekening bank bahkan tidak ada.
Beliau hanya merupakan suara jujur yang menginginkan Indonesia sejahtera, damai, adil bersatu tanpa intimidasi. Suaranya bebas tanpa kepentingan politik seperti anggapan sebagian orang Katolik.
Kemarin seorang Pastor memposting cover buku dari Frans Magnis Suseno yang berjudul: “Etika Dasar, masalah masalah pokok Filsafat Moral” dengan keterangan di bagian bawahnya:
“Lebih baik dibenci karena mengatakan kebenaran, daripada dicintai karena berbohong”. (Sokrates)
Anda mungkin mengejek, memaki dan menyudutkan beliau mengikuti beberapa ahli hukum terkenal tapi dia akan tetap bersuara benar saat yang lain diam, bersembunyi dan takut mengungkap kebenaran.(***)
(oleh Lucky, Pr)
(R.P. Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno SJ adalah seorang imam Katolik, pengajar filsafat, dan juga penulis. Magnis merupakan anggota Serikat Yesus. Ia mulai berkarya di Indonesia sejak 1961 sebagai seorang misionaris. Pada tahun 1977, ia menjadi warganegara Indonesia. Red.)




